KEJAM
BERAPA banyak kekecewaan lagi harus ditelan oleh anak-anak itu—yang dulunya dan mungkin hingga saat ini tetap mencintai ilmu.
Berapa banyak lagi penolakan yang harus diterima sebelum jiwa-jiwa malang itu hancur dihempas realiti, dan hanya tersisa jari-jari penuh luka, saat menjahit selimut yang terbuat dari perca-perca mimpi ibu dan ayah.
“Lupakan semua dan pulanglah,” katanya.
“Sebab yang lemah tidak diterima di sini. Kami punya nama baik yang harus dibawa, dijaga. Murid ini akan merosakkannya.”
Sungguh lucu. Padahal merekalah yang menggelapkan masa depan si remaja. Tanpa simpati, atau sekadar permintaan maaf. Para manusia tidak beradab itu datang ke rumah sang murid hanya untuk menyampaikan, “Carilah sekolah lain.”
KPI. Perintah atasan. Pengaruh orang berkuasa. Atau apa-apalah lagi alasan mereka berikan itu, jauh lebih penting.
Bahkan lebih penting daripada seorang pelajar yang ingin menimba ilmu. Lebih penting daripada mendidik seorang anak manusia. Seringnya kenyataan tidak mampu terbang bersama impian di angkasa. Maka aku ke pantai dan menulis kisah remaja-remaja yang malang ini walaupun cuma dibaca angin.
TAMAT
Catatan: Cerita ini adalah karya Adinra F. Skilo Media hanya menyiarkan sahaja. Segala hak cipta kekal milik pengarang.
Biodata Pengarang:
Adinra F
Post a Comment